Tentang Standar dan Tujuan Hidup
August 6, 2007
By Ratmi N.
Berbicara tentang kehidupan manusia, memang tak pernah habis dibahas dalam satu kali duduk saja. Hidup dengan serangkaian masalah-masalah.Masalah biaya kuliah, sekolah, makan sehari yang juga habis sehari dan berbagai variasi masalah yang kerap dihadapi tiap mahluk yang dinamakan paling mulia ini.
Hidup yang indah adalah hidup yang terarah, ada pegangan yang menjadi acuan.Hidup tanpa standar yang jelas membuat kita bisa ngalur ngidul semau gue,kesana –kemari, turun naik tanpa arah dan tujuan pasti. Apa jadinya kalau hidup distandar kan pada asas manfaat semata, asal ada untung langsung sikat.
Jika kita mau sedikit meluangkan pikiran, pada hal yang satu ini saya rasa anda akan dapati tujuan hidup anda yang sebenarnya. Hidup yang tidak sekedar lahir kedunia sebagai bayi imut tanpa warisan dosa, yang kemuadian beranjak tumbuh menjadi anak-anak yang ceria, cerewet terkadang suka membuat orang tua susah dengan berbagai perbuatan kita.
Beberapa tahun berikutnya beranjak gede masuk sekolah, dari SD, SMP, sampai SMA; dibarengi dengan warna “warni hidup susah-senang, tertawa “menangis, jatuh cinta “patah hati,dimarahi guru dan berbagai hal yang kerap kita alami. Lalu setelah lulus SMA ; kuliah atau bagi yang tidak kuliah menyibuksan diri untuk mencari pekerjaan. Setelah dapat kerja mengumpulkan uang gaji untuk masa depan biaya sekolah anak anak dan biaya hari tua.
Akhirnya begitu-begitu saja sampai siklus yang ayah pun juga dialami oleh anak-anaknya dan akhirnya menunggu ajal. Lalu apa yang beda dari kehidupan satu dengan yang lain? Saya rasa tidak ada yang beda siklus hidup setiap manusia pasti sama, yang beda hanya seperti apa standar yang digunakan dalam menjalani siklus hidup. Yaitu standar tetap yang terkait langsung dengan tujuan hidup; hidup yang berhubungan dengan mati. Dan saya yakin setiap orang pasti mati, adanya kehidupan lain sesudah mati yaitu alam kehidupan yang mengevaluasi kehidupan dunia kita.
Seperti halnya pembelajaran di bangku sekolah, knowledge yang diberikan adalah bahan evaluasi pada saat tes dilakukan. Yang disugukan pastilah pertanyaan-pertanyaan tentang bahan ajar yang ada. Bayangkan jika anda sebagai seorang peserta tes, lalu disuguhi soal-soal yang demikian tapi anda menjawab tidak seperti yang di inginkan, dijamin bukan nilai A yang anda dapat tapi E.
Analogi tesebut tidak jauh beda dengan kita yang saat ini mangkal di dunia jika hidup dianalogikan sebagai tes maka standar dan rules yang ada adalah bahan ajar yang pernah kita dapat. Keharusan bagi kita adalah memenuhi segala sesuatunya sesuai instruksi tersebut, yaitu menjalani hidup sesuai standar yang sudah diberi kalau memang belum dapat bahan berarti mencari adalah hal yang efektif untuk menyusul ketertinggalan kita. Sekarang standar hidup yang mana yang selama ini kita gunakan, berdasarkan hal itu lalu tujuan hidup apa yang ingin dicapai.
Kita selayaknya seorang muslim pun seperti demikian, kita seharusnya punya standar dan tujuan yang jelas ketika mengarungi hidup di alam dunia ini.Yang harus tidak terlupa dibenak kita adalah bahwa keberadaan kita didunia tidak ada begitu saja, hanya dengan sim salabim oleh mbah dukun lalu kita tiba-tiba ada,mustahil. Dengan berbagai rentetan peristiwa sebagai perantara; bercampurnya ovum dan sperma ayah dan ibu, itu pun tidak pasti bisa berhasil, pernah menemukan fenomena pasangan yang sudah 5 sampai 10 tahun menikah?
Tapi masih juga belum mendapatkan keturunan.Ini bukti bahwa bercampurnya uvom tidak cukup bisa memastikan keturunan bisa didapat,artinya kelahiran seseorang itu dipengaruhi oleh sesuatu yang lain. Lalu siapa yang mengatur? Tidak lain yang mengatur yaitu Sang Pencipta.
Sang Pencipta yang telah mengatur bumi berputar tanpa henti pada posisinya, yang menetapkan bulan hadir pada malam hari, mengintruksikan matahari agar jangan pernah iri pada bulan, & yang menggantung langit tanpa pernah bertali, Subhanallah!!! Belum lagi jika kita lihat diri kita sendiri pada hal yang kecil saja; masing “masing kita pasti punya alis dan rambut, coba anda perhatikan mengapa alis tidak memanjang seperti rambut, dan bisa anda bayangkan kalau alis bisa panjang seperti rambut. Mungkin bakal ada salon gunting alis!!! Ini baru sebagian kecil yang sempat kita perhatikan, belum lagi yang lain.
Lalu apa hubungan Sang Pencipta dengan kita? Kita sebagai makhluk yang di ciptakan kedunia, tidak dilempar begitu saja, tetapi disertai dengan aturan yang jelas dan terarah yang tercetak dalam Al-qur’an dan Al-hadis. Kewajiban kita sebagai makhluk yang dicipta adalah menjalani rules yang telah ditetapkan itu tadi. Inilah standar hidup yang sebenarnya yang membuat kita bisa menentukan arah hidup yang hakiki yaitu Ridho Sang Pencipta semata. Standar inilah yang yang semestinya dipenuhi. Karena kita pahami bahwa rules itu ada tidak sekedar landasan normatif yang untuk melakukannya tergantung kemauan, manfaat, atau kesempatan saja. Namun lebih dari itu dalam penerapannya rules itu mempunyai konsekuensi. Dosa dan pahala,surga dan neraka yang akan menjadi ganjaran bagi kita untuk setiap pilihan yang kita ambil. Dan ini pasti sangat pasti seperti pastinya kematian yang akan mengakhiri hidup kita.


