Oleh : Ratmi .N.

Berbicara masalah helm standar, saya teringat pengalaman di kejar polantas gara-gara tidak pakai helm, mungkin saya termasuk manusia pembangkang, kasarnya seperti itu.Tapi saya pikir sudahlah lumayan buat pengalaman.

Mengomentari razia lalu lintas yang kerap dilakukan aparat dijalan raya, tidak lain  bertujuan untuk membudayakan masyarakat tertib lalu lintas. Yang tidak kalah penting adalah budaya penggunaan helm standar.Cara ini saya rasa cukup manjur untuk membuat keder para pengendara nakal yang kadang nyeleneh dan coba-coba.Efek yang dirasakan pun lumayan terasa,terbukti dengan jarangnya sekarang terlihat kepala-kepala tanpa helm dijalan raya kecuali yang bersepeda.

Berdasarkan pengalaman teman-teman “tidak bakalan jalan dengan kendaraan bermotor kalau helm yang untuk berdua itu kurang satu,atau SIM dan STNK tidak dikantongi”.Mereka lebih mengambil alternative keliling untuk cari pinjaman helm standar dibanding mengambil resiko di uber-uber oleh polantas.

Sekarang yang jadi pertanyaan tuluskah niat petugas untuk melakukan hal itu?Atau malah memberi celah untuk makin maraknya aktivitas “ngobjek”? Atau yang lebih terstruktur lagi kebijakan-kebijakan sistematis ini terkait dengan berbagai pihak yang berkepentingan termasuk pesanan para pengusaha helm.
           
Terlepas dari masalah helm namun terkait dengan kebijakan-kebijakan yang ada.Fenomena budaya helm standar memang bisa dibilang berhasil dan membahagiakan,namun permasalahan kita kita tidak hanya terhenti disana.Coba kita tengok masalah lain seperti  narkoba serta akibat-akibatnya yang makin hari tidak malah makin berkurang. Dimajalah ,TV, radio, & koran lokal pun dapat kita lihat tiap hari tidak lepas dari masalah narkoba; kecelakaan karena narkoba, pembunuhan karena mabok, pencurian untuk narkoba dan berbagai variasi lainnya yang kerap mengisi kolom kriminal media massa.

Senada dengan hal diatas, masalah kenakalan remaja dan sex bebas yang sudah merambah ketingkat sekolah dasar. Permasalahan ini diperlancar dengan mudahnya beredar majalah-majalah esek-esek dan VCD porno. Fakta ini dapat dengan mudah   kita dapat, coba saja anda berjalan di sepanjang ruas jalan di Banjarmasin; di lapak –lapak koran , majalah dan VCD yang ada, coba anda tanya ada “bla..bla.bla..?pada si penjual,dijamin anda bakal disuruh milih maunya yang kaya gimana? Bachhh!!!

Kalau kita mau membandingkan fakta, kita ambil saja sampel di Amerika.Cerita ini saya dapat dari teman saya yang kebetulan pernah soan ke Negeri Paman Sam itu.Kita tahu bahwa negeri itu adalah induk lahirnya majalah mesum bernama  ‘Playboy’, tidak seperti di Indonesia majalah tersebut tidak dijual bebas, namun dijual di Book story elite mencarinya pun tidak mudah. Di toko-toko yang menjual majalah ini di instruksikan untuk tidak menjual bebas dengan perlakuan-perlakuan khusus. Yaitu meletakannya pada tempat paling aman;  rak tertinggi yang ketika orang ingin membeli atau sekedar melihat pun harus minta izin kepetugas toko tersebut. Lalu si petugas pun akan mengambil tangga untuk mencomot majalah tersebut dari tempatnya.

Fakta seperti ini saya rasa sangat kontras dengan apa yang terjadi di Indonesia umumnya dan di Banjarmasin khususnya.
Permasalahan remaja dan sex bebas yang terjadi di daerah kita ini juga diperlancar dengan fasilitas yang mendukung; diskotik-diskotik yang seakan tidak tersentuh untuk di amankan. Meskipun pernah ada perhatian aparat terhadap diskotik-diskotik dengan dilakukannya penertiban sajam dan psikotripika.tapi sejauh mana kah frekwensi perhatian aparat tersebut? Saya rasa frekwensi yang sering tidak akan berfungsi karena sesering apapun tetap akan ada celah , lagi pula jika dikaitkan dengan permasalahn sex bebas dan masalah remaja kegiatan yang dilakukan itu tidak memberi efek yang signifikan. Jika pun tersentuh juga paling oknum masuk sel tahanan 2-3 hari sampai berikutnya tidak ada alasan lagi untuk menahannya lebih lama dengan dalih suka sama suka.

Lalu kalau faktanya berputar-putar pada masalah itu-itu saja kapan waktunya generasi ini akan bangkit, bangkit untuk menjadi modal perubah progresif bangsa. Sebenarnya apa sebab dari masalah ini? Tidak lain dari tidak adanya instrumen hukum yang mengatur masalah ini secara jelas. Kita ambil satu contoh tidak usah jauh-jauh kita lihat saja di Unlam anda masih ingat fenomena “Fekon membara”? Dua sejoli yang demi cintanya rela mengumbar nafsu tanpa ikatan halal dan tambah lagi adegan ini di shoot dengan kamera HP.Oknum yang bersangkutan sampai sekarang tetap bisa dengan santai melenggang di kampus tanpa ada tindak lanjut yang jelas dari aparat.Apa artinya ini? Tidak ada ketakutan sedikit pun atas dosa yang dilakukan, jangankan kepada  manusia kepada Tuhanpun dia berani ngeyel, lalu apa sebabnya?.

Padahal Kalsel terkenal dengan orang-orang Banjarnya yang mayoritas muslim, dan saya tahu budaya seperti ini tidak pernah diajarkan. Lagipula orang Banjar itu terkenal dengan kereligiusannya. Saya pikir budaya religius orang banjar itu sudah mulai mengalami distorsi, terhempas dengan gebrakan hedonis yang dijejalkan lewat berbagai media di setiap lini kehidupan.

Hemat saya, permasalahan diatas adalah efek-efek yang tidak hanya disebabkan moralitas akhlak individu-individu yang mengalami distorsi tetapi lebih sistematis  yaitu terkait dengan ketidakjelasan peraturan bahkan mungkin ketiadaan instrumen yang mengatur itu tadi. Satu hal lagi yang seharusnya ada, yaitu kontrol masyarakat. Kendatipun sebenarnya kontrol tidak bisa berfungsi maksimum kalau peraturan-peraturan tersebut tidak dilegalisasi oleh Negara dan tidak sekedar hanya menjadi habit kebiasaan ataupun budaya saja.

Masalahnya sekarang bisakah hal ini direalisasikan ditengah-tengah kita yang diselimuti atmosfer kapitalis liberal, yang mengusung kebebasan berpendapat, asas asal manfaat tanpa mengindahkan norma religius yang wajib menjadi standar berpijak kita dan inilah yang seharusnya menjadi pijakan awal.

Sekarang tinggal kita yang diharuskan memilih, puas dengan budaya helm standar dan terlena dengan kerusakan generasi atau berpikir dan bertindak untuk merubah keadaan. O ya, yang perlu diingat adalah ini hanya sebagian kecil dari permasalahan kita. Masih banyak lagi permasalah-permasalahan yang berasal dari satu sumber yang sama yaitu sistem global kapitalis sekuler yang saat ini menguasai setiap penjuru dunia termasuk Indonesia dan Banjarmasin khususnya.
 
Banjarmasin, 7 Mei 2007

One Response to “Antara Razia Helm Standar dan Sex Bebas”

  1. Suci Says:

    saya suka menikmati alur tulisanmua yang satu ini.idenya kreatif…kalau menurut saya kenapa lebih gencar razia helm, soalnya kan lebih gampang nemunya, polisi tinggal nampang muka dikit di jalan, pasti ada aja tuh yg ketangkap.hehe…bukannya sex bebas ga gampang ditemukan, buktinya sering kita lihat berita2 di televisi. bahkan, maaf, tayangan televisi kita juga secara ga langsung terkadang (entah sengaja atau kebablasan) menayangkan gambaran anak muda yg seperti ga punya rem. memang susah mengingat di jaman sekarang, globalisasi dan modernisasi seolah sudah jadi kiblat. hedonis, atheis seringkali kita temui fenomenanya…jadi berpulang pada diri sendiri…pengendalian diri..hehe…


Leave a Reply